Getting Domestic Supply, Imports of Crude Oil will Decrease 3 Million Barrels Per Month

  No comments
3:34 AM



PT Pertamina (Persero) plans to import crude oil this year by around 3 million barrels per month from normal 11 million per month. Imports can be reduced because the company gets supplies of crude oil from domestic oil producers. 

     Senior Vice President of Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Hasto Wibowo said that he had an oil purchase agreement with a number of cooperation contract contractors (KKKS). The total additional domestic crude oil supply purchased by the company reaches 3.36 million per month or 112 thousand barrels per day (bpd). This additional domestic supply cut Pertamina's crude oil imports.

"It is reduced by around 3 million per month, usually roughly 11 million per month, now it is reduced to only 7-7.5 million per month," he said.

PT Chevron Pacific Indonesia

One of the KKKS who sold oil to Pertamina was PT Chevron Pacific Indonesia. The oil and gas company from the United States is also the biggest supplier of crude oil for the company. Of the total domestic supply of 3.3 million barrels per month, Chevron supplies up to around 2.5 million barrels per month.

According to Hasto, the purchase price of oil from Chevron is also very good.

"[Price] compromises, if it's more expensive than imports, I still import. Chevron is said to be too cheap or not, "he explained.

This additional supply of crude oil in the country is said to be profitable for Pertamina. The reason is that the company gets a supply of crude oil which is cheaper than imports, "Overall is good for the country," Hasto said.

Husky CNOOC Madura Ltd

Previously, Pertamina stated that there were 11 KKKS who had contracts to sell crude oil with their side. In detail, RH Petrogas Limited, PT SPR Langgak, PetroChina International Jabung Ltd, PT Bumi Siak Pusako, PT Chevron Pacific Indonesia, SAKA Pangkah Indonesia Ltd, PT Energi Mega Persada Tonga, Petronas Carigali Ketapang I Ltd, Husky CNOOC Madura Ltd, PT Energi Mega Persada Tbk, and PetroChina International (Bermuda) Ltd.



The sale of oil belonging to the KKKS to Pertamina was carried out after the ESDM Ministerial Regulation No. 42 of 2018 concerning the priority of petroleum utilization to fulfill domestic needs. 

     Article 2 of this regulation states that Pertamina and business entities holding petroleum processing business licenses must prioritize domestic oil supplies. For this reason, before planning imports, Pertamina and business entities must seek supplies from domestic contractors.

In the next article, the KKKS or its affiliates are obliged to offer part of their oil to Pertamina and / or business entities. The mechanism, referring to Article 4, is made no later than three months before the start of the export recommendation period for all volumes of petroleum in the contractor's part.

Furthermore, pertamina and / or business entities with contractors or affiliates must conduct negotiations in the normal manner of business. From the results of negotiations, in accordance with Article 5, Pertamina can directly appoint contractors to purchase oil from contractors.

"In direct appointment, Pertamina can enter into a 12-month long-term contract," said in paragraph 2 Article 5 Ministerial Regulation 42 / 2018. The results of the negotiations must be reported to the Directorate General of Oil and Gas.

Gasoline imports

While for imports of gasoline (gasoline), according to Hasto, it is relatively stable. This year, gasoline imports every month are around 9-10 million kiloliters (KL). Of this volume, Premium imports are very large, at 5.5-6 million barrels per month. However, Premium and Pertamax imports tend to change depending on domestic needs.

Imports of gasoline, he said, will rise when Pertamina carries out refineries. Because the refinery can be temporarily suspended when maintenance is carried out. However, the increase in imports due to this treatment is not too large.

"The shift (import) is not so much, indeed this January-February (treatment), the swing is at 1-1.5 million," Hasto said.

Meanwhile, related to Pertamina's oil rations from its oil and gas blocks in Iraq, it is said that it is no longer being distributed at overseas refineries and then brought to Indonesia. The West Qurna-1 oil production is entirely sold by Pertamina.

The West Qurna-1 oil production Iraq

"We are now in a position where there is no oil from abroad that is being redeemed anymore," he said

He explained, the company previously sent oil from Iraq to refineries owned by other companies abroad because the volume was very significant. Because, in addition to the production allotment, the company also had an oil allocation from the Iraqi authorities, the State Organization for Marketing Oil (SOMO). This was done by Pertamina in 2016-2017.

IN INDONESIAN

Mendapat Pasokan Domestik, Impor Minyak Mentah akan Turun 3 Juta Barel Per Bulan


PT Pertamina (Persero) merencanakan impor minyak mentah pada tahun ini akan terpangkas sekitar 3 juta barel per bulan dari normal 11 juta per bulan. Impor dapat dikurangi lantaran perseroan mendapat pasokan minyak mentah dari produsen minyak dalam negeri. 

    Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Hasto Wibowo menuturkan, telah memiliki kesepakatan membeli minyak dengan sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Total tambahan pasokan minyak mentah domestik yang dibeli perseroan ini mencapai 3,36 juta per bulan atau 112 ribu barel per hari (bph). Tambahan pasokan domestik ini memangkas impor minyak mentah Pertamina. 

“Berkurang sekitar 3 juta per bulan, biasanya kasarnya 11 juta per bulan, sekarang berkurang hanya 7-7,5 juta per bulan,” kata dia.

Salah satu KKKS yang menjual minyaknya kepada Pertamina adalah PT Chevron Pacific Indonesia. Perusahaan migas dari Amerika Serikat itu juga merupakan pemasok minyak mentah terbesar bagi perseroan. Dari total tambahan pasokan domestik 3,3 juta barel per bulan itu, Chevron memasok hingga sekitar 2,5 juta barel per bulan.

Menurut Hasto, harga beli minyak dari Chevron itu juga sangat bagus. 

“[Harga] kompromi, kalau lebih mahal dari impor, aku tetap impor. Chevron dikatakan terlalu murah juga tidak mau,” jelas dia. 

Tambahan pasokan minyak mentah dalam negeri ini disebutnya menguntungkan bagi Pertamina. Pasalnya, perseroan memperoleh pasokan minyak mentah yang lebih murah daripada impor, “Overall baik bagi negara,” kata Hasto.

Sebelumnya, Pertamina menyatakan terdapat 11 KKKS yang memiliki kontrak penjualan minyak mentah dengan pihaknya. Rincinya, RH Petrogas Limited, PT SPR Langgak, PetroChina International Jabung Ltd, PT Bumi Siak Pusako, PT Chevron Pacific Indonesia, SAKA Pangkah Indonesia Ltd, PT Energi Mega Persada Tonga, Petronas Carigali Ketapang I Ltd, Husky CNOOC Madura Ltd, PT Energi Mega Persada Tbk, serta PetroChina International (Bermuda) Ltd.

Penjualan minyak milik KKKS ke Pertamina dilakukan setelah adanya Peraturan Menteri ESDM No 42 Tahun 2018 tentang prioritas pemanfaatan minyak bumi untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. 

    Pasal 2 regulasi  ini menyatakan, Pertamina dan badan usaha pemegang izin usaha pengolahan minyak bumi wajib mengutamakan pasokan minyak yang berasal dari dalam negeri. Untuk itu, sebelum merencanakan impor, Pertamina dan badan usaha wajib mencari pasokan dari kontraktor dalam negeri.

Di pasal berikutnya, KKKS atau afiliasinya diwajibkan menawarkan minyak bagiannya kepada Pertamina dan atau badan usaha. Mekanismenya, mengacu Pasal 4, penawaran dilakukan paling lambat tiga bulan sebelum dimulainya periode rekomendasi ekspor untuk seluruh volume minyak bumi bagian kontraktor.

Selanjutnya, pertamina dan atau badan usaha dengan kontraktor atau afiliasinya wajib melakukan negosiasi secara kelaziman bisnis. Dari hasil negosiasi, sesuai Pasal 5, Pertamina dapat melakukan penunjukkan langsung kontraktor untuk pembelian minyak bagian kontraktor.

“Pada penunjukkan langsung, Pertamina dapat mengadakan kontrak jangka panjang selama 12 bulan,” demikian tertulis dalam ayat 2 Pasal 5 Peraturan Menteri 42 / 2018. Hasil negosiasi wajib dilaporkan kepada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

Impor Bensin

Sementara untuk impor gasoline (bensin), menurut Hasto, relatif stabil. Pada tahun ini, impor bensin setiap bulannya sekitar 9-10 juta kiloliter (KL). Dari volume tersebut, impor Premium tercatat sangat besar, yakni 5,5-6 juta barel per bulan. Namun, impor Premium dan Pertamax ini cenderung berubah tergantung kebutuhan dalam negeri.

Impor bensin disebutnya akan naik saat Pertamina melakukan perawatan kilang. Pasalnya, kilang bisa saja dihentikan sementara operasinya ketika perawatan dilaksanakan. Namun, kenaikan impor akibat perawatan ini tidak terlalu besar. 

“Gesernya (impor) tidak begitu banyak, memang Januari-Februari ini (perawatan), swingnya paling 1-1,5 juta,” kata Hasto.

Sementara itu, terkait jatah minyak Pertamina dari blok migasnya di Irak, dikatakannya tidak lagi diolahkan di kilang luar negeri kemudian dibawa hasilnya ke Indonesia. Produksi minyak Blok West Qurna-1 itu seluruhnya dijual oleh Pertamina. 

“Kami posisi sekarang tidak ada minyak dari luar negeri yang diolahkan lagi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, perseroan sebelumnya mengolahkan minyak dari Irak ke kilang milik perusahaan lain di luar negeri karena volumenya sangat signifikan. Pasalnya, selain jatah produksi, perseroan juga sempat memperoleh alokasi minyak dari otoritas Irak, State Organization for Marketing Oil (SOMO). Hal ini dilakukan Pertamina pada 2016-2017 lalu.

Investor Daily, Page-9, Thursday, Jan 10, 2019

Read More

BP Will Boost Tangguh Block Drilling Efficiency

  No comments
3:24 AM



BP Berau Ltd signed the managed consignment (VMC) vendor agreement with PT Seamless Pipe Indonesia Jaya (SPIJ). The cooperation is in the form of procurement of high-grade country tubular goods (OCTG) and other equipment and additional services that will be used to support the drilling activities of the Tangguh Papua Block.

the Tangguh Papua Block

The OCTG includes a sheath pipe and production pipes used in oil and gas production. Head of the Special Task Force for Upstream Oil and Gas (SKK Migas), Dwi Soetjipto assessed that VMC can reduce total ownership costs including the cost of protection, maintenance, storage and inventory carrying costs, so as to produce more cost-efficient operations .


"This agreement can not only produce an efficient operation, but also exceed the minimum 15% rate of domestic content with 26.24%," Dwi said.

In addition, this agreement requires that Seamless Pipe reuse the threading protector GCTG and reduce plastic waste.

IN INDONESIAN

BP Berau Genjot Efisiensi Pengeboran Blok Tangguh


BP Berau Ltd meneken perjanjian vendor managed consignment (VMC) dengan PT Seamless Pipe Indonesia Jaya (SPIJ). Kerjasama itu berupa pengadaan high-grade oil country tubular goods (OCTG) serta perlengkapan dan tambahan jasa lain yang akan digunakan untuk mendukung aktivitas pengeboran Blok Tangguh Papua.

Adapun OCTG meliputi pipa selubung dan pipa produksi yang digunakan dalam produksi minyak dan gas. Kepala Satuan Kerja Khusus Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto menilai, VMC dapat mengurangi total biaya kepemilikan termasuk biaya perlindungan, perawatan, penyimpanan serta beban biaya persediaan (inventory carrying cost), sehingga dapat menghasilkan operasi dengan biaya yang lebih efisien.

“Perjanjian ini bukan hanya dapat menghasilkan sebuah operasi yang efisien, namun juga melewati angka minimum 15% persyaratan tingkat kandungan dalam negeri dengan angka 26,24%," kata Dwi. 

Selain itu, perjanjian ini mewajibkan Seamless Pipe menggunakan ulang threading protector GCTG dan mengurangi sampah plastik.

Kontan, Page-14, Thursday, Jan 10, 2019

Read More

Chevron Ready to Transfer Oil to Pertamina

  No comments
3:19 AM



PT Pertamina (Persero) agreed to buy 2.5 million barrels of oil per month from PT Chevron Pacific Indonesia and Rokan Block in Riau. So far, oil-based revenue sharing from the Rokan Block, which is Chevron's share, is always exported.



Senior Vice President of Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Hasto Wibowo said that the company had agreed to transfer crude oil exports from a number of cooperation contract contractors (KKKS) of 3.35 million barrels per month or around 112,000 barrels per day (bpd).

Petronas

    Of the total, the oil supply from Chevron is the largest, while the rest comes from several other contractors, such as Petronas, and Medco. However, the company did not enter into an oil purchase agreement with ExxonMobil Indonesia.



Previously, nine KKKS had agreed to sell oil to Pertamina and leave one large contractor in the discussion phase with the government, namely Chevron Pacific Indonesia. At that time, Chevron was one of several oil and gas contractors who claimed they were still not can sell the oil that is the profit share of the giant company from the United States to Pertamina. At that time, Chevron said there were still tax problems in the process of selling oil to Pertamina.

"Regarding the selling price, of course we have compromised. If it is more expensive than imports, we choose to remain imported, "Hasto said.

According to him, with the agreement, the oil and gas SOE was able to reduce the volume of crude oil imports by around 4 million barrels per month. The average Pertamina crude oil imports of around 11 million barrels per month can be reduced to 7 million-7.5 million barrels per month.

"Costs will also decrease, overall for the country, foreign exchange is also safe."

Arcandra Tahar

Arcandra Deputy Minister of Energy and Mineral Resources Tahar once mentioned that there was the potential for contractor crude oil which had been exported so far to be transferred to Pertamina, such as Chevron and ExxonMobil. 

CNOOC 

     Arcandra explained, Chevron has been gaining oil revenues of 92,000 bpd, ExxonMobil Indonesia 30,000 bpd, Petronas Carigali 13,400 bpd, CNOOC 13,000 bpd, Medco E & P Indonesia at 11,000 bpd, and Chevron Indonesia Company (CICO) 7,000 bpd.

Large oil and gas companies from the United States, such as Chevron and Exxon, are the biggest supporters of oil production in Indonesia. PT Pertamina EP occupies the third position of three cooperation contract contractors that produce oil a lot during 2018.

IN INDONESIAN

Chevron Siap Alihkan Minyak ke Pertamina


PT Pertamina (Persero) menyepakati untuk membeli minyak mentah jatah ekspor dari PT Chevron Pacific Indonesia sebanyak 2,5 juta barel per bulan yang berasal dan Blok Rokan di Riau. Selama ini, bagi hasil minyak dari Blok Rokan yang merupakan jatah Chevron selalu diekspor.

Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Hasto Wibowo mengatakan bahwa perseoan telah menyepakati pengalihan ekspor minyak mentah dari sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sebanyak 3,35 juta barel per bulan atau sekitar 112.000 barel per hari (bph).

    Dari total tersebut, suplai minyak dari Chevron merupakan yang terbesar, sedangkan sisanya berasal dari beberapa kontraktor lain, seperti Petronas, dan Medco. Namun perseroan tidak melakukan kesepakatan pembelian minyak dengan ExxonMobil Indonesia.

Sebelumnya, sembilan KKKS telah setuju untuk menjual minyak ke Pertamina dan menyisakan satu kontraktor besar dalam tahap pembahasan dengan pemerintah, yakni Chevron Pacific Indonesia. Saat itu, Chevron merupakan salah satu dari beberapa kontraktor migas yang mengaku masih belum
bisa menjual minyak yang menjadi bagi hasil perusahaan raksasa dari Amerika Serikat itu ke Pertamina. Saat itu, Chevron menyatakan masih ada masalah perpajakan dalam proses penjualan minyak ke Pertamina.

“Terkait dengan harga jual tentu sudah kami kompromikan. Kalau lebih mahal dari impor, kami pilih tetap impor,” kata Hasto.

Menurutnya, dengan kesepakatan itu, BUMN migas itu mampu mengurangi volume impor minyak mentah sekitar 4 juta barel per bulan. Rerata impor minyak mentah Pertamina sekitar 11 juta barel per bulan bisa ditekan menjadi 7 juta-7,5 juta barel per bulan.

“Beban biaya juga akan berkurang, secara keseluruhan untuk negara, devisa juga aman."

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar pernah menyebutkan ada potensi minyak mentah milik kontraktor yang selama ini diekspor bisa dialihkan ke Pertamina, seperti Chevron dan ExxonMobil. 

     Arcandra menjelaskan, selama ini Chevron mendapatkan bagi hasil minyak  sebesar 92.000 bph, ExxonMobil Indonesia 30.000 bph, Petronas Carigali 13.400 bph, CNOOC 13.000 bph, Medco E&P Indonesia sebesar 11.000 bph, dan Chevron Indonesia Company (CICO) 7.000 bph.

Perusahaan migas besar dari Amerika Serikat, seperti Chevron dan Exxon, menjadi pendukung terbesar produksi minyak di Indonesia. PT Pertamina EP menduduki posisi ketiga dari tiga kontraktor kontrak kerja sama yang banyak memproduksi minyak sepanjang 2018.

Bisnis Indonesia, Page-24, Thursday, Jan 10, 2019

Read More

Petronas and Repsol Work on Saka Kemang Oil and Gas Blocks

  No comments
3:08 AM



At the beginning of this year, Petronas and Repsol will work on the Sakakemang Working Area (WK) in South Sumatra. The collaboration was marked by the signing of a joint operation agreement in December last year.

Repsol

President Petronas Carigali Indonesia, Mohd Nazlee Rasol, said that the collaboration between the management of the Sakakemang Block will be carried out by subsidiaries of the two companies. Those involved are a subsidiary of Petronas, PC Sakakemang BV, and a subsidiary of Repsol, Talisman Sakakemang BV.

Petronas Carigali Indonesia

"Petronas will continue to play an active role in the long-term development of the petroleum industry in the Indonesian region," he said.

the Sakakemang Block by Petronaa & Repsol

Regarding the shares in the Sakakemang Block, Petronas will hold a 45% stake and Repsol also controls 45%. The remaining 10 percent will be held by Mitsui Oil Exploration Co Ltd (MOECO).

Mitsui Oil Exploration Co Ltd (MOECO)

Mohd Nazlee said, as the oil and gas block managed by the Cooperation Contract Contractors (KKKS), the Sakakemang Block will be under the supervision and control of the Special Task Force for Upstream Oil and Gas (SKK Migas).


the Ketapang Block by Petronas

In addition to cooperation with Repsol, Petronas has managed oil and gas blocks in Indonesia. For example, the Ketapang Block, where the Malaysian company is an operator that holds 80% of the shares with a contract period until 2028. In addition, Petronas controls 100% of the North Madura II Block with a contract period until 2045.

IN INDONESIAN

Petronas dan Repsol Garap Blok Migas Saka Kemang


Pada awal tahun ini, Petronas bersama Repsol bakal menggarap Wilayah Kerja (WK) Sakakemang di Sumatra Selatan. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian operasi bersama pada Desember tahun lalu.

Presiden Petronas Carigali Indonesia, Mohd Nazlee Rasol, mengatakan kerjasama pengelolaan Blok Sakakemang akan dilakukan anak usaha dari kedua perusahaan, Mereka yang terlibat adalah anak usaha Petronas, PC Sakakemang BV, dan anak usaha Repsol, Talisman Sakakemang BV.

“Petronas akan terus memainkan peran aktif dalam pengembangan jangka panjang industri perminyakan di wilayah Indonesia," kata dia.

Perihal bagian saham dalam Blok Sakakemang, Petronas akan memegang saham 45% dan Repsol juga menguasai 45%. Adapun sisanya 10% saham akan dipegang Mitsui Oil Exploration Co Ltd (MOECO).

Mohd Nazlee mengemukakan, sebagai blok migas yang dikelola Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), maka Blok Sakakemang akan berada di bawah pengawasan dan kendali Satuan Kerja Khusus Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Selain kerjasama dengan Repsol, Petronas sudah mengelola blok migas di Indonesia. Misalnya Blok Ketapang, di mana perusahaan dari Malaysia ini adalah operator yang memegang 80% saham dengan masa kontrak hingga tahun 2028. Selain itu, Petronas menguasai 100% Blok North Madura II dengan masa kontrak sampai tahun 2045.

Kontan, Page-14, Wednesday, Jan 9, 2019

Read More

PETRONAS and Repsol Work on Sakakemang Working Area

  No comments
12:29 AM



The potential and opportunities of the open oil and gas sector, PETRONAS through its subsidiary, PC Sakakemang B.V. and Repsol through its subsidiary, Talisman Sakakemang B.V, signed a Joint Operation Agreement for the Sakakemang Work Area in South Sumatra, Indonesia.

PETRONAS

With the signing of this agreement it became an important milestone for PETRONAS in its aspiration to expand its business in Indonesia and specifically in Sumatra.

"PETRONAS will continue to play an active role in the long-term development of the oil industry in Indonesia," said PETRONAS President Looking for Indonesia, Mohd Nazlee Rasol in its release.

Repsol

The signing of the Joint Operation Agreement between PETRONAS and Repsol subsidiaries was held on December 5, 2018, at the Repsol office in Jakarta attended by representatives from both companies. Representing PETRONAS, is the President of PETRONAS Looking for Indonesia, Mohd Nazlee Rasol.

While Repsol was represented by Senior Exploration & Opportunity Legal Representative Manager, David Ramos, while Repsol Vice President & General Manager, Francisco Gea Pascual del Riquelme, and PETRONAS Senior Exploration Manager Looking for Indonesia, Jamin Jamil Mohd Idris witnessed the signing.

The Sakakemang Working Area continues to be operated by Repsol with participation rights of 45 percent while PETRONAS holds another 45 percent and Mitsui Oil Exploration Co. Ltd. (MGECO) holds the remaining 10 percent. All Cooperation Contract Contractors are under the supervision and control of SKK Migas as the Representative of the Republic of Indonesia.

PETRONAS is a national oil company that has transformed itself into a leading oil and gas multinational company, ranked among the largest companies in the world. PETRONAS is known to be able to produce energy efficiently and reliably, after building capacity at every stage of the oil and gas value chain. 

     As the policy towards the future of low carbon energy, PETRONAS continues to utilize technology, technical capabilities, and a diverse, resilient and competent workforce to deliver sustainable energy to the world.

IN INDONESIAN

PETRONAS dan Repsol Garap Wilayah Kerja Sakakemang


Potensi dan peluang sector migas yang terbuka, PETRONAS melalui anak perusahaannya, PC Sakakemang B.V. dan Repsol melalui anak perusahaannya, Talisman Sakakemang B.V, menandatangani Perjanjian Operasi Bersama untuk Wilayah Kerja Sakakemang di Sumatera Selatan, Indonesia.

Dengan penandatanganan perjanjian ini menjadi tonggak penting bagi PETRONAS dalam aspirasinya untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia dan khususnya di Sumatra.

“PETRONAS akan terus memainkan peran aktif dalam pengembangan jangka panjang industri perminyakan di Indonesia,” kata Presiden PETRONAS Carigali Indonesia, Mohd Nazlee Rasol dalam rilisnya.

Penandatanganan Perjanjian Operasi Bersama antara anak perusahaan PETRONAS dan Repsol telah dilakukan pada 5 Desember 2018, di kantor Repsol di Jakarta dihadiri perwakilan dari kedua perusahaan. Mewakili PETRONAS, adalah Presiden PETRONAS Carigali Indonesia, Mohd Nazlee Rasol. 

Sedangkan Repsol diwakili Manajer Senior Perwakilan Hukum Eksplorasi & Opcom, David Ramos, sementara Wakil Presiden & Manajer Umum Repsol, Francisco Gea Pascual del Riquelrne, dan Manajer Eksplorasi Senior PETRONAS Carigali Indonesia, Jamin Jamil Mohd Idris menyaksikan penandatanganan tersebut.

Wilayah Kerja Sakakemang terus dioperasikan oleh Repsol dengan hak partisipasi sebesar 45 persen sementara PETRONAS memegang 45 persen lainnya dan Mitsui Oil Exploration Co. Ltd (MGECO) memegang 10 persen sisanya. Semua Kontraktor Kontrak Kerja Sama berada dibawah pegawasan dan kendali SKK Migas sebagai Perwakilan Republik Indonesia.

PETRONAS adalah perusahaan minyak nasional yang telah mengubah dirinya menjadi perusahaan multinasional piliharn minyak dan gas terkemuka, berperingkat di antara perusahaan-perusahaan terbesar didunia. PETRONAS dikenal mampu menghasilkan energi secara efisien dan andal, setelah membangun kemampuan di setiap tahap rantai nilai minyak dan gas. 

    Seiring kebijakan menuju masa depan energi rendah karbon, PETRONAS terus memanfaatkan teknologi, kemampuan teknis, dan tenaga kerja yang beragam, tangguh, dan kompeten untuk memberikan energi secara berkelanjutan ke dunia.

Duta Masyarakat, Page-16, Wednesday, Jan 9, 2019

Read More

ExxonMobil, Conoco, & BP Reach the Target

  No comments
6:51 AM



Only three oil and gas cooperation contract contractors were able to achieve the production target of oil and gas sales ready for 2018 and the six largest contractors in the country. 


    The three cooperation contract contractors (KKKS) are ExxonMobil Cepu Ltd. (operators of Banyu Urip Field, Cepu Block), PT Conoco Phillips Indonesia (Block Corridor in South Sumatra), and PT BP Berau (operator of the Tangguh LNG Plant in West Papua).

the Tangguh LNG Plant in West Papua

Meanwhile, PT Chevron Pacific Indonesia, as the largest oil producer at present, records oil lifting in the Rokan Block at 209,000 barrels per day (bpd) or 98% of the 2018 State Budget target. ExxonMobil Cepu Ltd. realized oil lifting of 209,000 bpd or 102% of the target. PT Pertamina EP is 79,900 bpd or 93% of the target.


In terms of natural gas producers, BP Berau, which is the operator of the Tangguh Block, recorded a lifting of 1,076 million cubic feet per day (MMscfd) or 108% of the target. ConocoPhillips Grissik Ltd. recorded production of 840 MMscfd or 104% of the target. 


 BP Berau

    Excellent performance was not followed by PT Pertamina Hulu Mahakam who was the operator of the Mahakam Block. The subsidiary of PT Pertamina (Persero) only realized gas lifting in 2018 amounting to 832 MMscfd or 75% of the 2018 State Budget target.

ConocoPhillips Grissik Ltd.

SKK Migas Head Dwi Soetjipto said that Chevron's performance in Block Rokan this year fell 10% compared to 2017 realization.

ExxonMobil Cepu Ltd.

"[Lifting oil] ExxonMobil Cepu Ltd. up compared to 2017 performance of 203,000 bpd. For Pertamina EP, the oil lifting is indeed "compared to 2017, but it did not reach the 2018 State Budget target," he said last weekend.

the Mahakam Block

Dwi explained, the realization of the Mahakam Block gas lifting was far below the 2018 State Budget target because it was still in the transition period of the management of the former Total Work Area. Only in 2019, is investment not in 2018? This year, they plan to invest a lot [PT Pertamina Hulu Mahakam]. "

Realization of oil lifting in 2018 amounted to 778,000 bpd or 97.25% of the 2018 state budget target of 800,000 bpd. Meanwhile, the oil lifting target in 2019 fell to 775,000 bpd. The realization of oil and gas lifting throughout 2018 amounted to 1.92 million barrels of oil equivalent per day / boepd or 96% of the 2018 state budget target of 2.00 million boepd.

The gas lifting target in 2019 is 1.25 million boepd. Throughout 2018, the realization of Pertamina Hulu Mahakam's oil and gas lifting reached 64 million barrels of oil equivalent with a projected yield of around Rp 22 trillion.

IN INDONESIAN

ExxonMobil, Conoco, & BP Mencapai Target


Hanya tiga kontraktor kontrak kerja sama minyak dan gas bumi yang mampu mencapai target produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi sepanjang 2018 dan enam kontraktor terbesar di Tanah Air. Ketiga kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) itu adalah ExxonMobil Cepu Ltd. (operator Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu), PT Conoco Phillips Indonesia (Blok Corridor di Sumatra Selatan), dan PT BP Berau (operator Kilang LNG Tangguh di Papua Barat).

Sementara itu, PT Chevron Pacific Indonesia, sebagai produsen minyak terbesar saat ini, mencatatkan lifting minyak bumi di Blok Rokan sebesar 209.000 barel per hari (bph) atau 98% dari target APBN 2018. ExxonMobil Cepu Ltd. merealisasikan lifting minyak 209.000 bph atau 102% dari target. PT Pertamina EP sebesar 79.900 bph atau 93% dari target.

Dari sisi produsen gas alam, BP Berau yang menjadi operator Blok Tangguh mencatatkan lifting 1.076 juta kaki kubik per hari (MMscfd) atau 108% dari target. ConocoPhillips Grissik Ltd. mencatatkan produksi 840 MMscfd atau 104% dari target. Kinerja sangat baik tidak diikuti oleh PT Pertamina Hulu Mahakam yang menjadi operator Blok Mahakam. Anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut hanya merealisasikan lifting gas pada 2018 sebesar 832 MMscfd atau 75% dari target APBN 2018.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan bahwa kinerja Chevron di Blok Rokan pada tahun ini turun 10% dibandingkan dengan realisasi 2017.

“[Lifting minyak] ExxonMobil Cepu Ltd. naik dibandingkan dengan kinerja 2017 sebesar 203.000 bph. Kalau Pertamina EP, lifting minyaknya memang naik dibandingkan dengan 2017, tetapi memang tidak mencapai target APBN 2018,” tuturnya akhir pekan lalu.

Dwi menjelaskan, realisasi lifting gas Blok Mahakam jauh di bawah target APBN 2018 karena masih dalam masa transisi pengelolaan Wilayah kerja eks Total tersebut. Hanya di tahun 2019, apakah pada 2018 investasi tidak? Tahun ini rencananya investasi mereka [PT Pertamina Hulu Mahakam] banyak.”

Realisasi lifting minyak pada 2018 sebesar 778.000 bph atau 97,25% dari target APBN 2018 sebesar 800.000 bph. Sementara itu, target lifting minyak pada 2019 turun menjadi 775.000 bph. Realisasi lifting minyak dan gas bumi sepanjang 2018 sebesar 1,92 juta barel setara minyak per hari /boepd atau 96% dari target APBN 2018 sebesar 2,00 juta boepd. 

Target lifting gas pada 2019 sebesar 1,25 juta boepd. Sepanjang 2018, realisasi lifting migas Pertamina Hulu Mahakam mencapai 64 juta barrel setara minyak dengan proyeksi imbal hasil untuk negara sekitar Rp 22 triliun.

Bisnis Indonesia, Page-24, Wednesday, Jan 9, 2019

Read More

Government Finalizes Rokan Block Contract

  No comments
6:34 AM



The Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM) is currently finalizing the Rokan Block gross sharing scheme (PSC). The signing of the contract is targeted to be possible this month.

"As soon as possible this month (the signature of the Rokan Block contract)," said Deputy Minister of ESDM Arcandra Tahar.

Arcandra Tahar

ESDM Ministry Director General of Oil and Gas Djoko Siswanto said that there had been no further discussions with PT Pertamina (Persero) for the new Rokan Block contract. At present, it is completing the preparation of this contract.

"This is finalization," he said.

the Rokan Block By Chevron

Pertamina Corporate Secretary Syahrial Mukhtar had revealed that the Rokan Block would be managed by a new Pertamina subsidiary. The establishment of this subsidiary is due to the very large size of the Rokan Block so that there needs to be one unit that focuses on working on this oil and gas block. Later, this new subsidiary will sign the Rokan Block contract.

This new Rokan Block contract uses a PSC scheme for gross split, different from the previous one using a cost recovery scheme. Revenue sharing for contractors is set at 65% for oil and 70% for gas. While the government's share is 35% for oil and 30% for gas. While the potential for state revenues from Block Rokan during Pertamina's management reaches US $ 57 billion.

Dwi Soetjipto

Head of the Special Task Force for Upstream Oil and Gas Business Activities (SKK Migas) Dwi Soetjipto said, reflecting on the experience of managing the Mahakam Block, the transition to the management of the Rokan Block must also be carried out before the existing contract ends. Because the investment in the Mahakam Block had stagnated in the transition period.



It has begun a discussion of the Block Rokan management transfer with Pertamina as the new operator and PT Chevron Pacific Indonesia as the existing operator. As is known, during the transition to the management of the Mahakam Block, Pertamina began participating in issuing investments before operatorship rights shifted from Total E & P Indonesia. Pertamina starts to spend US $ 180 million in 2017, even though Pertamina's contract in the Mahakam Block will be effective starting January 1, 2018.

In fact, Pertamina has been officially appointed as the operator since mid-2015 and signed the PSC in December 2015. However, Pertamina and Total have just signed the Mahakam Block management transfer agreement in August 2016. Subsequently, Pertamina signed the Mahakam Block PSC amendment which became the investment base earlier in October 2016.

Regarding the Rokan Block, Dwi hopes that the discussion with the related contractor (KKKS) contractor can be finalized soon. Because, he considered the transition period for the management of the Rokan Block must start earlier than the Mahakam Block.

"Right (starting this year transition), it should be yes (starting this year)," he said.

In Blok Rokan, Pertamina promises a signature bonus of US $ 784 million or Rp. 11.3 trillion. In addition, Pertamina also has a definite work commitment (KKP) for the first five years worth US $ 500 million or around Rp 7.2 trillion. Pertamina has deposited a signature bonus and investment guarantee in the form of a performance bond.

Referring to the definite work commitment promised to the government, Pertamina has planned a number of activities, as contained in the ESDM Ministerial Decree 1923K / 10 / MEM / 2018. Some of these activities were enhanced oil recovery / EOR worth US $ 4 million, drilling of 11 exploration wells of US $ 69.8 million, drilling of five Telisa wells of US $ 18.1 million, stage-1 CEOR 7 pattern US $ 247 million, and Kulin stage-1 steam flood or Rantau Bais US $ 88.6 million.

Referring to SKK Migas data, in 2018, the realization of the Block Rokan production was below the target set, which was only 209,466 barrels per day (bpd) of 213 thousand bpd. Realization of the lifting is 10% lower than the realization in 2017 which was recorded at 223 thousand bpd. While in 2019, Blok Rokan oil production is projected to be around 180 thousand bpd. At present, the Rokan Block has oil reserves of 500 million to 1.5 billion barrels of oil equivalent per day.

IN INDONESIAN

Pemerintah Finalisasi Kontrak Blok Rokan


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini sedang memfinalisasi kontrak kerja sama (production sharing contract/PSC) skema bagi hasil kotor (gross split) Blok Rokan. Penandatanganan kontrak ditargetkan bisa dalam bulan ini juga.

“Secepatnya bulan ini (tanda tangan kontrak Blok Rokan),” kata Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, sudah tidak ada pembahasan lagi dengan PT Pertamina (Persero) untuk kontrak baru Blok Rokan. Saat ini, pihaknya sedang menyelesaikan penyusunan kontrak ini. 

“lni finalisasi,” ujar dia.

Sekretaris Perusahaan Pertamina Syahrial Mukhtar sempat mengungkapkan, Blok Rokan akan dikelola anak usaha baru Pertamina. Pembentukan anak usaha ini lantaran ukuran Blok Rokan yang sangat besar sehingga perlu ada satu unit yang fokus menggarap blok migas ini. Nantinya, anak usaha baru ini lah yang akan menandatangani kontrak Blok Rokan.

Kontrak baru Blok Rokan ini menggunakan PSC skema bagi basil kotor (gross split), berbeda dari sebelumnya yang menggunakan skema cost recovery. Bagi hasil untuk kontraktor ditetapkan sebesar 65% untuk minyak dan 70% untuk gas. Sementara bagian pemerintah yakni 35% untuk minyak dan 30% untuk gas. Sementara potensi penerimaan negara dari Blok Rokan selama dikelola Pertamina mencapai US$ 57 miliar.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menuturkan, berkaca pada pengalaman alih kelola Blok Mahakam, transisi pengelolaan Blok Rokan juga harus dilakukan sebelum kontrak eksisting berakhir. Pasalnya, investasi di Blok Mahakam sempat tersendat di masa transisi.

Pihaknya telah memulai pembahasan alih kelola Blok Rokan ini dengan Pertamina selaku operator baru dan PT Chevron Pacific Indonesia sebagai operator eksisting. Seperti diketahui, pada saat transisi pengelolaan Blok Mahakam, Pertamina mulai ikut mengeluarkan investasi sebelum hak operatorship beralih dari Total E&P lndonesie. Pertamina mulai mengeluarkan dana sebesar US$ 180 juta pada 2017, meski kontrak Pertamina di Blok Mahakam akan efektif mulai 1 Januari 2018.

Padahal, Pertamina resmi ditunjuk jadi operator sejak pertengahan 2015 dan menandatangani PSC pada Desember 2015. Namun, Pertamina dan Total baru saja menandatangani perjanjian alih kelola Blok Mahakam pada Agustus 2016. Selanjutnya, Pertamina menandatangani amendemen PSC Blok Mahakam yang menjadi dasar investasi lebih awal pada Oktober 2016.

Terkait Blok Rokan, Dwi berharap pembahasan dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) terkait itu bisa segera finalisasi. Pasalnya, dia menilai masa transisi pengelolaan Blok Rokan harus dimulai lebih awal dibanding Blok Mahakam. 

“Betul (mulai tahun ini transisi) , harusnya iya (mulai tahun ini),” kata dia.

Di Blok Rokan, Pertamina menjanjikan bonus tanda tangan sebesar US$ 784 juta atau Rp 11,3 triliun. Selain itu, Pertamina juga memiliki komitmen kerja pasti (KKP) untuk lima tahun pertama senilai US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun. Pertamina telah menyetorkan bonus tanda tangan dan jaminan investasi berupa performance bond tersebut.

Mengacu komitmen kerja pasti yang dijanjikan kepada pemerintah, Pertamina sudah merencanakan sejumlah kegiatan, sebagaimana yang ada didalam Keputusan Menteri ESDM 1923K/ 10/ MEM/2018. Beberapa kegiatan itu yakni studi pengurasan minyak tahap lanjut (enhanced oil recovery/ EOR) senilai US$ 4 juta, pengeboran 11 sumur eksplorasi US$ 69,8 juta, pengeboran lima sumur Telisa US$ 18,1 juta, stage-1 CEOR 7 pattern US$ 247 juta, dan stage-1 steam flood Kulin atau Rantau Bais US$ 88,6 juta.

Mengacu data SKK Migas, pada 2018 lalu, realisasi produksi Blok Rokan di bawah target yang ditetapkan, yakni hanya 209.466 barel per hari (bph) dari 213 ribu bph. Realisasi lifting tersebut lebih rendah 10% dibanding realisasi pada 2017 lalu yang tercatat sebesar 223 ribu bph. 

     Sementara di 2019, produksi minyak Blok Rokan diproyeksikan sekitar 180 ribu bph. Saat ini, Blok Rokan memiliki cadangan minyak sebesar 500 juta hingga 1,5 miliar barel setara minyak per hari.

Investor Daily, Page-9, Tuesday, Jan 8, 2019

Read More

Blog Archive

JAVA SINGER"MEGAN" FROM USA

OIL PRICE

OGLinks Mobile App

Download the OGLinks Mobile App for Oil & Gas News on the go!

Comments